fenomena sosial di sekitar kita May 23, 2009
Posted by intan littlebabe in 1.Tags: fenomena, pemerintah, pengemis, profesi, sosial
trackback
Apakah anda pernah melihat pemandangan seperti gambar di samping? Saya yakin anda pernah menemukan fenomena ini, sering malahan. Apakah yang anda rasakan saat melihatnya? Apakah kasihan, miris, kesal, atau malah jijik?
Yah ini lah fenomena yang sering kita temui disekitar kita. Pengemis, pengamen, pemulung, gelandangan mungkin sudah sering kita temui disekitar kita. Begitu pula dengan saya. berasal dari kota kecil di Sumatera sana saya memang tidak asing lagi dengan pemandangan seperti ini. Namun saya terkejut saat saya menginjakkan kaki ke kota besar seperti Bandung. Betapa banyaknya saudara-saudara kita yang menjalani profesi ini. Kenapa saya sebut profesi? Ini tidak lain karena kebanyakan dari mereka telah bergantung pada pekerjaan tersebut selama bertahun-tahun, bahkan sampai turun temurun, demi mendapatkan uang untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.
Dari sekian banyak yang saya temui kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, pemuda, perempuan dan orang tua.
Namun yang membuat saya lebih terkejut adalah ternyata mereka, terutama pengemis anak-anak, digerakkan secara terorganisir oleh orang-orang yang memanfaatkan orang-orang lemah tersebut untuk kepentingan mereka. Awalnya saya pikir itu hanya ada di dalam film-film atau sinetron yang saya tonton. Tetapi tidak…itu semua adalah fenomena yang sesungguhnya ada disekitar kita.
Dibalik rasa kasihan yang sering kali timbul, terkadang sering pula muncul rasa jengkel dan kesan
melihat tingkah saudara-saudara kita ini. Sekedar berbagi cerita, saya sering makan di sebuah tempat makan (maklum anak kost…^_^) dan di depannya selalu ada seorang ibu dan anaknya yang masih berusia 2-3 tahun yang dengan setia menengadahkan tangannya setiap kali ada orang yang masuk atau keluar dari warung makan tersebut. Setiap kali melihatnya hati saya terasa miris, tidak bisa membayangkan jika yang duduk disana adalah ibu dan adik saya tercinta. Saya seringkali memperhatikan ibu dan anak tersebut. Beberapa kali saya melihat ibu tersebut menyuruh anaknya mendekati para pelanggan warung makan untuk meminta uang dengan wajah memelas.
Pada suatu saat giliran saya yang didekati anak tersebut. Setelah saya periksa kantong saya ternyata tidak ada satu pun uang receh dan saya pun berkata pada adik kecil itu “maaf ya dek…” dengan senyum penyesalan. Namun tahukah anda apa yang keluar dari mulut kecilnya itu? “Dasar pelit!!!” seraya memukul tangan saya. Masyaallah… Saya hanya bisa terpaku melihat kelakuan si kecil itu. Lalu si kecil kembali pada ibunya, tapi si ibu kembali menyuruh si anak untuk mendekati orang yang lain. Ya ampun, apa yang ada dipikiran si ibu itu? Kenapa dia tega mengajarkan anaknya meminta-minta di usia yang sekecil itu? Kenapa tega membawa si anak untuk terlibat dalam profesi tersebut? Yah,,,mungkin si ibu mempunyai sejuta jawaban untuk menjawabnya. Tapi tetap saja saya tidak akan pernah mengerti.
Lalu saya pikiran saya mulai beralih dari si ibu dan anak kecil tersebut kepada pemerintah. Ada dimana mereka? Apa yang telah mereka lakukan untuk mengatasi masalah ini? Bukankah pada pasal 34 telah ditetapkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. apa arti semua kata-kata itu jika tidak direalisasikan? Selama ini pemerintah hanya bisa melakukan razia, menangkap mereka dan mengkarantina mereka. Namun tanpa tindak lanjut yang lebih jauh, hal itu akan sia-sia karena mereka akan kembali lagi ke jalanan. Ini lah pekerjaan rumah pemerintahan kita yang harus segera diselesaikan. Karena jika tidak bangsa ini akan semakin terpuruk karena banyak generasi muda yang berada di jalanan dan tidak mempunyai masa depan yang cerah, banyak tenaga kerja produktif yang tersia-siakan dan banyak lansia yang terlantar dan tidak dapat menikmati hari tua mereka dengan tenang. Hal ini juga harus membutuhkan kesadaran kita sebagai pewaris bangsa ini untuk lebih peka terhadap fenomena di sekitar kita.
“Selama ini pemerintah hanya bisa melakukan razia, menangkap mereka dan mengkarantina mereka.”
Sebenarnya mereka sudah diberi pelatihan, namun prospek ngemis it masih sangat besar. Dari cerita2 dgn pengamen disekitar UGM, setiap malam mereka bisa dpt 20-40rb. anak2 yg minta2 diperempatan UGM pun tidak jauh beda.
Yg baru2 ini iL temui, ada anak yg ngemis di sunmor dgn alasan adeknya masuk RS, kurang dari 3 jam dia bisa mengumpulkan hampir 100rb, padalah sebenarnya dia tidak punya adek yg sakit.
Nah, sangat cerahnya peluang mendapat uang dari belaskasihan orang inilah yg sekarang mereka manfaatkan.
hmm iya tan..
saya sependapat dgn anda..
he
@ iL: nah itu dia masalahnya,,, bukankah diatas udah ntan sebutin klo masih diperlukan tindak lanjut lebih jauh dari masalah ini. Tidak cukup hanya dikarantina dan diberi pelatihan, karena bisa saja diantara mereka sudah mempunyai keterampilan misalnya. Hal utama yang harus dibenahi adalah mental mereka yang suka meminta-minta. memanfaatkan dan menyalahgunakan belas kasihan orang lain demi mendapatkan uang. Pendekatan yang bersifat personal dan psikologis mungkin lebih berguna. Sekian dulu masukan dari saya, jika ada tanggapan dan masukan akan diterima dengan senang hati^_^
@ Ocha: makasi ya udah mampir di blog yang masih sepi ini…
sering2 lah berkunjung untuk meramaikannya… di tunggu comment dan masukan untuk tulisanku selanjutnya ^_^